Kamis, 19 Juli 2012

PENDEKATAN DALAM MANAJEMEN KELAS DI SEKOLAH DASAR


I.           DESKRIPSI
Setelah mempelajri materi ini, Anda dapat memahami dan mengaplikasikan berbagai pendekatan dalam manajemen kelas dalam pelaksanaan pembelajaran di SD, ilmu yang anda terima adalah sebagai modal seorang guru untk melaksanakan pembelajaran dengan tepat, mengajar di SD beda dengan mengajar di tingkat yang lebih tinggi karena di SD adalah merupakan penanaman pundasi ilmu kepada peserta didik untuk lanjut ke tingkat yang lebih tinggi karena suasana kelasnya rata-rata gaduh tidak mau tenang sehingga kadang-kadang guru sulit untuk memulai pembelajaran dengan tepat waktu karena menunggu tenangnya kelas untuk memulai pembelajaran, sehingga guru SD dituntut untuk memiliki keserdasan pengasaan berbagai pendekatan dalam manajemen kelas.

II.        TUJAUN PEMBELAJARAN
               Setelah anda mempelajari materi 2 ini, anda dapat menjelaskan jrnis-jenis  pendekatan dalam manajemen kelas

III.             URAIAN MATERI
IV.           BERBAGI PENDEKATAN MANAJEMEN KELAS DI SD
Berikut beberapa contoh pendekatan dalam manajemen kelas yang maksudnya untuk agar guru dan calon guru lebih memahami kekuatan dan kelemahan yang ada pada setiap pendekatan sehingga guru  dapat menggunakan pendekatan tersebut dengan tepat sesuai dengan kondisi kelas yang di hadapinya
      Ditinjau dari metode pendekatannya,secara garis besar bimbingan dapat dibedakan dalam dua cara yaitu:
A.    TEKNIK PENFEKATAN SECARA INDIVIDUAL

                          Teknik pendidikan secara individual,yaitu bimbingan yang diberikan secara individual atau perseorangan.hal tersebut sering dikenal dengan istilah”individual conseling” karena pembimbingan tersebut dilakukan secara individual.Imam Sholihin,(2010), (online)

Latar belakang warga belajar pada pendidikan kesetaraan sangat heterogen, hal tersebut dikarenakan sasaran pendidikan kesetaraan adalah mereka (warga masyarakat) yang tidak terlayani oleh pendidikan formal memiliki banyak factor yang mempengaruhinya. Drop out dan tamat tetapi tidak melanjutkan biasanya disebabkan oleh banya k factor, antara lain: factor ekonimi, social, keterbelakangan, dan bahkaan factor demokrafi. Selain factor tersebut, lamanya seseorang tidak bersekolah (jalir formal) kemudian diajak kembali untuk bersekolah (belajar) melalui jalur yang berbeda (non-formal) akan sangat mempangaruhi terhadap semangat belajar warga belajar.

 Kesulitan belajar sering kali menjadi penyebab rendahnya prestasi belajar, ketidak mampuan warga belajar mengembangkan potensi dirinya dapat memungkinkan warga belajar menjadi putus asa. Ada beberapa penyebab terjadinya keesulitan dalam belajar, antara lain:
a.       Kesulitan mempersepsikan, berpikir, dan mengingat yang berkenan dalam proses pembelajaran.
b.      Adanya minimal brain dysfuncation namun tidak berhubungan dengan tingkat integensi atau kerusakan fisik alat indra.
c.       Setting lingkungan belajar yang berakibat munculnya kesulitan peserta didik dalam menerima materi prlajaran.

Mengatasi kesulitan belajar merupakan suatu hal yang sangat penting dilakukan untuk dapat meningkatkan kompotensi warga belajar. hal tersebut dapat dilakukan melalui setting lingkungan, penggunaan metode belajar yang variatif dan pendekatan pembelajaran secara individu. Peranan tutor dalam pengembangan potensi diri warga belajar ditentukan oleh kemampuan tutor tersebut memahami larat belakang warga belajarnya dan menemukan penyebab kesukaran belajar yang dihadapinya, selain penguasaan materi pelajaran.

Upaya yang harus dilakukan seorang tutor dalam hal ini adalah tutor harus melakukan pendekatan individu akar permasalahannya dan solusi permasalahan kesulitan belajar bagi warga belajarnya. Melalui pendekatan pembelajaran secara individual ini dapat melakukan pola pembelajaran yang menyenangkan untuk mengurangi kebosanan warga belajar, serta mampu membangkitkan motivasi belajar pada akhirnya warga  belajar dapat mengembangkan potensi dirinya sendiri. Aldisar Qomara, (2010), online


B.     TEKNIK PENDEKATAN SECARA KELOMPOK
Teknik pedekatan secara kelompok,yaitu bimbingan yang dilaksanakan secara kelompok terhadap sejumlah individu sehingga beberapa orang atau  individu sekaligus dapat menerima bimbingan yang di maksudkan.
                        Premesi utama yang mendasari pendekatan proses kelompok di dasari pada asumsi-asumsi berikut:
1.            Kehidupan sekolah berlangsung dan lingkungan kelompok, yakni kelompok kelas.
2.            Tugas pokok guru adalah menciptakan dan membina kelompok kelas yang efektif dan produktif
3.            Kelompok kelas adalah suatu system social yang mengandung ciri-ciri yang terdapat pada semua system social.
4.            Pengelolaan kelas oleh guru adalah menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang sudah menunjang terciptanya suasana belajar yang menguntungkan. 
       .(Dalamhttp://sekolah-dasar.blogspot.com/2009/02/pendekatan-dalam-pengelolaan-kelas.html)

               Pendekatan proses kelompok didasarkan pada asumsi – asumsi berikut:
1.            Kehidupan sekolah berlangsung dalam lingkungan kelompok, yakni kelompok kelas.
2.            Tugas pokok guru adalah menciptakan dan membina kelompok kelas yang efektif dan produktif.
3.            Kelompok kelas adalah suatu system social yang mengandung ciri – ciri yang terdapat pada semua system social.Pengelolaan siswa oleh guru adalah menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang menunjang terciptanya suasana belajar yang menguntungkan.

       Menurut Schmuck dan Weber (1986) mengemukakan 6 ciri pendekatan proses kelompok, yaitu:
1.            Harapan adalah persepsi yang dimiliki oleh guru dan siswa mengenai hubungan mereka satu sama lain.
2.            Kepemimpinan dapat diartikan sebagai perilaku yang membantu kelompok bergerak menuju pencapian tujuannya serta memelihara dan / atau meningkatkan kepaduan.
3.            Daya tarik menunjuk pada pola – pola persahabatan dalam kelompok kelas.
4.            Norma adalah pengharapan bersama mengenai cara berfikir, cara berperasaan, dan cara berperilaku para anggota kelompok. Norma sangat mempengaruhi hubungan antar pribadi karena norma tersebut memberikan pedoman yang membantu para anggota memahami orang lain.
5.            Komunikasi, baik verbal maupun non – verbal adalah dialog antara anggota – anggota kelompok, komunikasi yang efektif berarti menerima pesan dan menafsirkan dengan tepat pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan.
6.            Keterpaduan menyangkut perasaan kolektif yang dimiliki oleh para anggota kelas mengenai kelompok kelasnya.
7.            Keterpaduan menekankan hubungan individu dengan kelompok sebagai suatu keseluruhan.
C.          Pedekatan Yang Lain Pada Manajemen Kelas
Disamping pendekatan individual dan pemdekatan kelompok dalam manajemen kelas maka, ada beberapa pendekatan yang lain dalam manajemen kelas yang yang perlu difahami dan dikuasai oleh guru dan calon guru yang sangat membantu guru untuk melaksanakan proses pembelajaran khususnya di SD. Pada dasarnya sistem pembelajaran yang dianut disekolah dasar sangat tergantung pada pendekatan dan metode  yang digunakan. Djamarah (2006) Adapun pendekatan berbagai pendekatan lain tersebut adalah seperti dalam uraian berikut:
1.         Pendekatan Kekuasaan
   Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas.
2.            Pendekatan Ancaman
Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku anak didik dilakukan dengan cara memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
3.         Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan diartikan secara suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.
4.         Pendekatan Resep atau buku masak
                            Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.
                           Pendekatan buku masak merupakan pendekatan berbentuk rekomendasi berisi daftar hal-hal harus dilakukan atau yang tidak harus di lakukan oleh seorang guru apabila menghadapi  berbagai tipe masalah manajemen kelas.pendekatan ini cenderung menumbuhkan sikap relatif pada diri guru dalam manejemen kelas.
5.          Pendekatan Pengajaran
                                    Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah.
6.         Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
                              Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik.
Pendekatan pengubah prilaku didasarkan pada prinsip-prinsip psikologi behaiorisme.prinsip utama yang mendasari pendektan ini adalah prilaku merupakan hasil proses belajar.
Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. Pendekatan ini bertolak dari sudut pandang bihavioral yang mengemukakan asumsi bahwa :
a.             Semua tingkah laku yang baik dan yang kurang baik merupakan hasil proses belajar asumsi ini mengharuskan wali / guru kelas berusaha menyusun program kelas dan suasana yang dapat merangsang terwujudnya proses belajar yang memungkinkan siswa mewujudkan tingkah laku yang menurut ukuran norma yang berlaku dilingkungan sekitarnya.

b.         Di dalam proses belajar terdapat proses psikologis yang fundamental berupa penguatan positif (positive re inforcement) hukuman penghapusan (extinction) dang penguatan negatif (negative reinforcement) asumsi ini mengharuskan seorang wali / guru melakukan usaha mengulang-ulangi program atau kegiatan yang dinilai baik (merangsang) bagi terbentuknya tingkah laku tertentu terutama dikalangan siswa.

7.         Pendekatan Sosio-Emosional
Pendekatan ini berakar pada pisikologi penyuluhan klinikal dank arena itu memberikan arti yang sangat penting pada hubungan antara pribadi dan pendekatan ini dibangun atas dasar asumsi bahwa manajemen keelas yang efektif sangat tergantung pada hubungan positif antara guru dengan siswa. P,endekatan ini memendang bahwa pengelolaan kelas yang efektif merupakan fungsi dari hungan yang baik antara pengajar dan pembelajaran. Maman Rakhman (;2005).
Dalam pendekatan ini,peran guru adalah mendorong perkembangan dankerjasama kelompok.pengelolaan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan gura untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok yang produktif, dan selain itu guru harus pula dapat menjags kondisi itu agar tetap baik.. Untuk menjaga kondisi kelas tersebut juga dapat mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan. (Djamarah, 2006:179). Dalam manajemen kelas guru bertugas membangun hubungan antar pribadi yang positif sehingga tercipta iklim sosio-emosional yang positif pula.
Menurut Rogers, kelancarran proses belajar yang sangat penting tergantung kepada kualitas sikap yang terdapat dalam hubungan pribadi antara guru dengan peserta didik. Rogers mengidentifikasi beberapa sikap, yaitu kelulusan, keserasian, sikap menerima, menghargai, menaruh perhatian, mempercayai, dan pengertian empatik. Sedangkan

Menurut Ginott (1972) menekankan pentingnya komunikasi yang efektif untuk meningkatkan hubungan antara guru dengan siswa dengan cara berbicara sesuai dengan situasi. Apabila ada perilaku siswa yang tidak dikehendaki, guru menasehati agar menerankan apa yang dilihatnya, menjelaskan apa yang dirasakannya dan menerangkan apa yang perlu dilakukan.

Menurut Glasser, (1969), menekankan pentingnya keterlibatan guru dengan menggunakan strategi manajemen yang disebut terapi kenyataan. Perilaku siswa yang menyimpan adalah buah kegagalannya mengembangkan keberadaan dirinya. Glasser mengemukakan 8 langkah untuk membantu mengubah perilaku menyimpan peserta didik, yaitu:

1.         Melibatkan dirinya dengan siswanya dengan menunjukkan kesediaanya membantu siswa, memecahkan masalah.
2.         Memberikan uraian tentang perilaku siswa.
3.         Membantu siswa membuat pendapat tentang perilakunya yang menjadi masalah.
4.         Membantu siswa merencanakan tindakan yang lebih baik.
5.         Membimbing siswa
6.         Mendorong siswa untuk melaksanakan rencananya
7.         Tidak menerima pernyataan maaf siswa apabila rencana siswa gagal.
8.         Memberikan kesempatan kepada siswa merasakan akibat wajah dari perilakunya yang menyimpang.

                        Menurut Dreikusr (1982), mengemukakan gagasan-gagasan penting yang    memenuhi implikasi bagi manajemen kelas yang efektif, yaitu;
1.         Penekanan pada kelas yang demokratis dengan kondisis siswa dengan guru berbagi tanggung jawab, baik dalam proses maupun dalam langkah maju.
2.         Pengakuan akan pengaruh konsekuensi wajar dan logis dari perilaku siswa.
        (Rogers, Ginott, Glasser, Dreikurs, Manajemen kelas,<on line>)

8.        Pendekatan Elektik
                  Dua syarat yang perlu dikuasai oleh guru dalam menerapkan pendekatan elektik yaitu :
a.          Menguasai pendekatan-pendekatan manajemen kelas yang potensial seperti perubahan prilaku dan proses kelompok.
b.         dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai dengan baik dalam masalah menejemen kelas.
        Kesimpulannya adalah bahwa kemampuan guru memilih manajemen kelas yang tepat sangat tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah manajemen kelas yang dihadapinya.

Menurut Wilford A. Weber menyatakan bahwa pendekatan dengan cara menggabungkan semua aspek terbaik dari berbagai pendekatan manajemen kelas untuk menciptakan suatu kebulatan atau keseluruhan yang bermakna, yang secara filosofis, teoritis, dan / psikologis dinilai benar, yang bagi guru merupakan sumber pemilihan. Perilaku pengelolaan tertentu yang sesuai dengan situasi disebut pendekatan eklektik.
                        Hal yang perlu dikuasai oleh seorang guru dalam menerapkan pendekatan eklektik yaitu:
1.         Menguasai pendekatan manajemen kelas yang potensial, seperti pendekatan pengubahan perilaku, penciptaan iklim sosio –  emosional, dan proses kelompok.
2.         Dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur      yang sesuai baik dalam masalah manajemen kelas.(wilford A.Weber, manajemen kelas, (online)

9.            Pendekatan Analitik Pluralistik
Berbeda dengan pendekatan eklektik, pendekatan analitik pluralistik memberi kesempatan kepada guru memilih strategi manajemen kelas atau gabungan beberapa strategi dari berbagai pendekatan yang mempunyai potensi terbesar mampu menanggulangi masalah manajemen kelas dalam situasi yang telah dianalisis.
     Ada emapt  tahap pendekatan analitik pluralistic:
1.                Menentukan kondisi kelas yang diinginkan.Dalam hal ini, guru perlu mengetahui dengan jelas dan mendalam    tentang kondisi – kondisi yang menurut penilaianya akan memungkinkan mengajar secara efektif.Keuntungan dari pendekatan ini adalah:
a.             Guru tidak memandang kelas semata – mata hanya sebagai reaksi atas masalah yang timbul.
b.             Guru akan memiliki seperangkat tujuan yang mengarahkan dan yang menjadi tolak ukur penilaian atas hasil upayanya.
2.            Menganalisis kondisi kelas yang nyata.Dengan mengadakan analisis ini, akan memungkinkan guru mengetahui:
a.          Kesenjangan antara kondisi sekarang dan yang diharapkan.
b.         Kesenjangan yang timbul jika guru gagal mengambil tindakan pencegahan.
c.          Kondisi sekarang yang perlu dipelihara dan dipertahankan karena dianggap kurang baik.
3.            Memilih dan menggunakan strategi pengelolaan.Guru yang efektif adalah guru yang menguasai berbagai strategi manajerial yang tergantung dalam berbagai pendekatan manajemen kelas dan mampu memilih dan menggunakan strategi yang paling sesuai dalam situasi tertentu yang dianalisis sebelumnya.
4.            Menilai keefektifan pengelolaan
         Proses penilaian ini memusatkan perhatian kepada 2 perangkat perilaku, yaitu:
a.       Perilaku guru yaitu sejauh mana guru telah menggunakan perilaku manajemen yang direncanakan akan dan dilakukan.
b.      Perilaku peserta didik yaitu sejauh mana peserta didik berperilaku yang sesuai, yakni apakah mereka telah melakukan apa – apa yang diharapkan untuk dilakukan.
Kesimpulannya ,Seorang guru adalah tenaga profesional yang berperan sebagai pengelola aktivitas yang harus bekerja berdasarkan pada kerangka acuan pendekatan manajemen kelas. Guru harus memiliki, memahami dan terampil dalam menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam manajemen kelas supaya bisa menyesuaikan sehingga dapat mengangani kasus manajemen kelas yang tepat dengan masalah yang dihadapinya.Maman Rakhman (1999)
10.     Pendekatan penguatan
                            Teori pengubahan menyatakan bahwa penguatan prilaku tertentu sejalan dengan usaha belajar yang hasilnya memperoleh ganjaran.perilaku yang diperbuat berupa prilaku yang disukai.prilaku tertentu yang diberi ganjaran cenderung untuk diteruskan.umumnya penguatan diberikan kepada pembelajaran yang menampilkan tingkah laku yang baik dengan harapan agar prilaku tertentu yang dikuasai pembelajaran disebut penguatan positif,sebaliknya penguatan dengan jalan mengurangi atau menghilangkan perangsang yang tidak menyenangkan atau tidak memberi hasil kepada diri pembelajaran disebut penguatan negatif.

D.    PENDEKATAN PENGELOLAAN KELAS YANG EFEKTIF

Manajemen kelas biasa juga di sebut dengan pengelolaan kelas, pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu; pengelolaan dan kelas, pengelolaan itu sendiri akar katanya adalah “kelola”, ditambah awalan “pe”dan akhiran “an”. Istilah lain dari pengelolaan adalah “manajemen”, Manajemen adalah kata yang aslinya dari bahasa Inggris, yaitu manajemen yaitu ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan. Djamarah,(2006)
          Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata yaitu” pengelolaan dan kelas”. Pengelolaan itu sendiri akar katanya adalah “kelola” ditambah awalan “pe” dan akhiran “an” istilah lain dari kata pengelolaan adalah “management”, yang berarti ketalaksanaan, tata pimpinan, pen gelolaan. Manajemen atau pengelolaan dalam pengertian umum menurut Suharsini arikunto pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan.Suharsini Arikunto, (2004)

1.      Pengaturan Siswa
Abu Hamid dan Widodo Supriono (1991) melihat siswa sebagai individu dengan segala perbedaan dan persamaannya yang pada intinya terletak pada aspek biologis, intelektual dan psikologis. Perbedaan dan persamaan yang dimaksud diantaranya adalah:
a.             Persamaan dan perbedaan dalam kecerdasan
b.            Persamaan dan perbedaan dalam kecakapan
c.             Persamaan dan perbedaan dalam bakat
d.            Persamaan dan perbedaan dalam sikap
e.             Persamaan dan perbedaan dalam kebiasaan
f.             Persamaan dan perbedaan dalam pola-pola dan tempo perkembangan.
Berbagai persamaan dan perrbedaan siswa diatas, berguna dalam membantu usaha pengaturan siswa dikelas tertutama berhububgan dengan masalah bagaimana pola pengelompokan siswa guna menciptakan lingkungan yang efektif dan kreatif.
Kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan kelompok menghendaki peninjauan pada aspek individu siswa. Penempatan siswa memerlukan pertimbangan pada aspek individu siswa. Penempatan siswa memerlukan pertimbangan pada aspek postur tubuh siswa, dimana menempatkan siswa yang mempunyai postu tubuh tinggi atau rendah, dimana menempatkan siswa yang memiliki kelainanj penglihatan dan pendengaran, jenis kelamin siswa perlu juga dijadikan pertimbangan dalam pengelompokan siswa. Siswa yang cerdas, lincah,  bodoh, pendiam,  yang suka membuat keributan, suka mengganggu temannya dan sebagainya. Sebaiknya dipisah agar kelompok tidak didomoinasi oleh suatu kelompok tertentu agar bersaingan dalam belajar berjalan seimbang.
 Kelas merupakan taman taman belajar bagi siswa. Kelas adalah tempat bagi para siswa untuk tumbuh dan berkembangnya potensi intelektual dan emosional. Syarat-syarat atau indikor kelas yang baik adalah:
a.          Rapi, bersih, sehat, tidak lembab,
b.         Cukup cahaya yang meneranginya,
c.          Sirkulasi udara cukup
d.         Perabot dalam kelas baik, cukup jumlahnyadan ditata dengan rapi
e.          Jumlah siswa tidak lebih dari 40 orang (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikddasmen, (1996)
                                                           
2.      Prinsip Kelas yang Efektif                 
Mengajar efektif adalah mengajar yang daapaat membawa belajar yang efektif.Untuk dapat mengajar secara efektif guru harus mampu menciptakan iklim belajar yang menunjang terciptanya kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar. Mursel dalam hal ini mengemukakan enam prinsip mengajar yang apabila ke-enam prinsip mengajar itu tidak digunakan/ditempatkan dengan sebaik-baiknya maka iklim belajar yang menunjang terciptanya kondisi bagi terjadinya proses belajar akan dicapai. Prinsip-prinsip tersebut adalah senbagai berikut:

a.   Konteks
           `situasi problematic yang mencakup tugas untuk belajar hendaknya dinyatakan dalam kerangka konteks yang dianggap penting dan memaksa bagi pelajar dan melibatkan siswa menjadi peserta yang aktif justru karena tujuan itu sendiri.
                                  Ciri-ciri konteks yang baik adalah: 
1)         Dapat membuat pelajar menjadi lawan berinteraksi secara dinamis dan kuat
2)         Terdiri dari pengalaman yang actual dan konkret
3)          Pengalaman konkret yang dinamis merupakan alat untuk menyusun  pengertian, bersiifat sederhana dan pengalaman itu dapat ditiru untuk diulangi

b.         Fokus
                        Untuk mencapai pembelajaran yang efektif, harus dipilih focus yang memiliki ciri-ciri yang baik,seperti uaraian berikut ini: . Depdagri dan Dekdikbud,(.1996)
1)         Memobilisasi tujuan
2)         Memberi bentuk dan uniformitas pada belajar
3)         Mengorganisasikan belajar sebagai suatu proses eksplorasi dan penemuan focus yang baik harus menimbulkan suatu pertanyaan yang perlu dijawab, suatu soal yang perlu dipecahkan, suatu  

c.          Sosialisai
                        Mutu makna dan efektivitas belajar sebagian besar tergantung pada kerangka social tempat belajar itu sangatlah berlaku. Kondisi social pada suatu kelas banyak sekali pengaruhnya terhadap proses belajar yang sedang berlangsung di kelas.

d.          Individualisasi
                        Belajar memang persoalan individual , tetapi sejauh mana perbedaan cara belajar itu dari yang dilakukan ole individu lain.
e.           Urutan
                   Guru harus mempertimbangkan efektivitas dari serangkaian pelajaran yang disusun secara tepat menurut waktu atau urutannya.

f.        Evaluasi
                 Evaluasi dilaksanakan untuk meneliti hasil dan proses belajar siswa, untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang melekat pada proses belajar itu.Evaluasi merupakan bagian mutlak dari pengajaran sebagai insur integral di dalam organisasi belajar yang wajar.Evaluasi dapat digunakan untuk menilai metode mengajar yang digunakan dan untuk mendapatkan gambaran komperhensif tentang siswa sebagai perseorangan,dan dapat juga membawa siswa pada taraf belajar yang lebih baik.
Djamarah (2006:185) menyebutkan “Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas dapat dipergunakan.” Prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang dikemukakan oleh Djamarah adalah sebagai berikut.

1.         Hangat dan Antusias
   Hangat dan Antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
2.            Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
3.            Bervariasi
          Penggunaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian siswa. Kevariasian ini merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.
4.      Keluwesan
                    Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta menciptakan iklim belajarmengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya.


5.              Penekanan pada hal-hal yang positif
Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negative. Penekanan pada hal-hal yang     yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku siswa yang positif daripada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
                        Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan dislipin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengendalikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Akhmad Sudrajat, (2008)
Thomas Gordon (1990:) mengatakan bahwa hubungan guru dan siswa dikatakan baik apabila hubungan itu memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

1.               Keterbukaan, sehingga baik guru maupun siswa saling bersikap jujur dan membuka diri satu sama lain.
2.               Tanggap bilamana seseorang tahu dia dinilai oleh guru lain.
3.                      Saling ketergantungan, anatar satu dengan yang lain.
4.               Kebiasaan, yang memperbolahkan setiap orang tumbuh dan mengembangkan ke unikannya, kreativitasnya dan kepribadiannya.
5.               Saling memenuhi kebutuhan, sehingga tidak ada kebutuhan seorangpun yang terpenuhi Suharsini Arikunto,dkk, (2008),online

Bila begitu konsepsi pengololaan kelas yang efetif, maka itu berarti tugas yang berat bagi guru adalah berusaha menghilangkan atau memperkecil permasalahan-permasalahan yang terkait dengan semua problem dengan pengololaan kelas, seperti kurangnya kesatuan, tidak standar perilaku dalam bekerja kelompok, reaksi negative terhadap anggota kelompok, moral redah, kelas mentoleransi kekeliruan-kekeliruan temannya dan sebagainya.

Peran seorang guru pada pengololaan kelas sangat penting khususnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Itu karena secara prinsip, guru memegang dua tugas sekaligus masalah pokok, yakni pengajaran dan pengololaan kelas. Tugas sekaligus masalah pertama, yakni pengjarran, segala usaha membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sebaliknya, masalah pengololaan berkaitan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien demi tercapainya tujuan pembelajaran.

Kegagalan seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengolola kelas. Indicator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai standar atau batas ukuran yang ditentukan.karena itu, pengolaan kelas merupakan kompotensi guru yang sangat penting dikuasai dalam rangka proses pembelajaran. Karena itu maka setiap guru dituntut memiliki kemampuan dalam mengolola kelas.
a.       Sesuai (ekspositori, inkuiri, eksperimen, atau discovery) melalui pemanfaatan sumber-sumber belajar dan fasilitas belajar yang tersedia.
b.      Memotivasi kegiatan belajar peserta didik melalui penguatan, penjelasan, penghargaan, ataupun apresiasi terhadap perilaku belajar peserta didik.
c.       Melakukan penyesuaian-penyesuaian kegiatan belajar peserta didik berdasarkan analisis aktual kondisi proses pembelajaran yang terjadi, agar kegiatan pembelajaran lebih menyenangkan peserta didik.Suharsini Arikunto,
E.    MENANGANI PRILAKU YANG MENYIMPANG DENGAN BERBAGAI PEBDEKATAN MANAJEMEN KELAS
          Pakar manajemen kelas Carolyn Evertson dan rekannya membedakan antara intervensi minor dan moderasi dalam menangani perilaku perilaku penyimpangan pada peserta didik yaitu:
1.          Intensi Minor
                          Beberapa masalah hanya membutuhkan intervensi minor atau kecil. Masalah-masalah yang kerap muncul biasanya mengganggu aktifitas belajar di kelas. Misalnya, murid mungkin ribut sendiri, meninggalkan tempat duduk tanpa ijin, bercanda sendiri, atau memakan permen di kelas. Strategi yang efektif antara lain adalah:
2.            Gunakan isyarat non verbal
Jalin kontak mata dengan murid. Kemudian beri isyarat dengan meletakkan telunjuk jari di bibir anda, menggeleng kepala, atau menggunakan isyarat tangan untuk menghentikan perilaku tersebut.
3.             Terus lanjutkan aktifitas belajar
Biasanya terjadi suatu jeda dalam transisi aktifitas dalam kegiatan belajar mengajar, dimana pada jeda tersebut murid tidak melakukan apa-apa. Pada situasi ini, murid mungkin akan meninggalkan tempat duduknya, mengobrol, bercanda dan mulai ribut. Strategi yang baik adalah bukan mengkoreksi tindakan mereka tetapi segera melangsungkan aktifitas baru berikutnya.
4.           Arahkan perilaku
Jika murid mengabaikan tugas yang kita perintahkan, ingatkan mereka tentang kewajiban itu. Anda bisa berkata, “Baiklah, ingat, semua anak harus menyelesaikan soal matematika ini.”
5.           Beri instruksi yang dibutuhkan
Terkadang siswa melakukan kesalahan kecil saat tidak memahami cara mengerjakan tugas. Untuk mengatasinya anda harus memantau murid dan memberi petunjuk jika dibutuhkan.
6.             Suruh murid berhenti dengan nada tegas dan langsung
                               Jalin kotak mata dengan murid, bersikap asertif, dan suruh murid  menghentikan tindakannya. Buat pernyataan, singkat dan pantau situasi sampai murid patuh. Strategi ini bisa dilakukan dengan mengkombinasikan strategi mengarahkan perilaku murid.
7.    Beri murid pilihan    
                                      Berilah murid tanggung jawab dengan memilih dua pilihan, bertindak benar atau menerima konsekuensi negatif. Beri tahu murid apa tindakan benar itu dan apa konsekuensi bila melanggar.
8.        Jangan beri privilese atau aktifitas yang mereka inginkan
                                 Bila anda memperbolehkan murid untuk berkeliling kelas atau mengerjakan tugas dengan murid lain dan ia malah menyalahgunakan privilese yang anda berikan atau mengganggu pekerjaan temannya, maka anda bisa mencabut privilesenya.
9.         Buat perjanjian behavioral
           Buatlah perjanjian yang bisa disepakati oleh semua murid. Perjanjian ini harus merefleksikan masukan dari kedua belah pihak yaitu guru dan murid. Jika muncul problem dan murid tetap keras kepala, guru bisa merujuk pada kesepakatan bersama yang telah dibuat.
10.      Pisahkan atau keluarkan murid dari kelas
             Bila murid bersenda gurau dan bersikap tidak mengindahkan peringatan, anda bisa memisahkan ia dari murid disekitarnya ataupun mengeluarkannya dari dalam kelas.


11.          Kenakan hukuman atau sanksi
Menggunakan hukuman sebaiknya tidak melakukan tindakan kekerasan, tetapi biasa dilakukan dengan memberikan tugas mengerjakan soal atau menulis halaman tambahan.
               
V.             RANGKUMAN
Dalam pelaksanaan pembelajaran di SD ada beberapa pendekatan yang harus digunakan guru supaya kondisi kelas tetap kondusif, terhindar dari berbagai masalah kelas yang dapat menganggu pelaksanaan pembelajaran.ada beberapa pendekatan dalam pelaksanaan manajemen kelas yang sering digunakan guru dalam pembelajaran yaitu:
1.      Pendekatan individu
2.      Pendekatan Kelompok

Selain ke dua pendekatan dalam manajemen kelas ada pula beberapa pendekatan yang sering digunakan antara lain ; pendekatan kekuasaan, pendekatan ancaman, pendekatan kebebasan, pendekatan resep atau buku masak, pendekatan perubahan tingkah laku, pendekatan pengajaran, pendekatan sosioemosional, peendekatan elektik, pendekatan analitik pluralistic, dan pendekatan pnguatan , pengauatan tentang manajemen kelas dibahas pula tentang pendekatan dalam pengelolaan kelas dimana kedua istilah tersebut pada dasarnya mengandung pengertian dan tujuan yang sama. Dan terakhir adalah masalah mengangani prilaku yang menyimpang yang sering muncul dalam pelaksanaan pembelajaran, manajemen kelas ataupun pengelolaan kelas

I.          LEMBAR TUGAS
1.         Diskusikan pendekatan manajemen kelas dalam pembelajaran    dengan kelompoknya masing-masing
2.         Laporkan hasil analisis anda di atas
3.         Tuliskan hasil laporan anda untuk bahan diskusi kelas


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar